TRENGGALEK, pkbtrenggalek.id – Pengembangan kawasan wisata Dilem Wilis yang mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp3,8 miliar dari dana pinjaman menjadi perhatian Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Trenggalek, Murkam, S.T. Ia mendorong agar investasi tersebut dikelola secara optimal sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hal itu disampaikan Murkam saat melakukan pengawasan terhadap pengembangan kawasan Dilem Wilis. Dalam agenda tersebut, ia menyoroti kesiapan perencanaan, ketersediaan bahan baku, pengelolaan lahan, hingga target pengembalian investasi atau Break Even Point (BEP).
Murkam, yang juga menjabat sebagai Bendahara DPC PKB Trenggalek, menegaskan bahwa pengawasan tersebut penting untuk memastikan penggunaan anggaran daerah yang bersumber dari dana pinjaman benar-benar memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat.
“Kita ingin memastikan kondisi Dilem Wilis ini bagaimana dalam rangka optimalisasi dan peningkatan PAD. Mengingat sumber anggaran yang sebesar itu juga dari dana pinjaman,” ungkap Murkam.
Menurutnya, pengembangan Dilem Wilis tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana. Perlu ada perencanaan menyeluruh agar fasilitas yang dibangun dapat berfungsi secara maksimal dan memiliki keberlanjutan secara ekonomi.
Sejumlah fasilitas yang direncanakan dalam pengembangan kawasan tersebut meliputi gudang kopi, pabrik susu, serta perluasan kafe Dilem Wilis yang juga diproyeksikan sebagai tempat kegiatan pertemuan atau rapat.
Namun, Murkam memberikan sejumlah catatan terkait kesiapan potensi produksi di kawasan tersebut. Kebun cengkeh yang ada dinilai sudah tidak produktif, sementara ketersediaan bahan baku kopi belum memadai untuk mendukung rencana pengembangan produksi. Adapun penanaman kopi masih direncanakan pada tahun berikutnya.
Selain itu, aspek konservasi dan pengelolaan lahan juga dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Sebab, pengembangan kawasan wisata harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan potensi alam yang dimiliki Dilem Wilis.
“Gambaran kami ini pembangunan prasarananya dibangun dulu. Namun demikian, konservasi lahannya juga belum ada gambaran untuk tahun ini ataupun tahun depan,” ujarnya.
Murkam juga meminta agar Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek memperjelas target pengembalian investasi. Menurutnya, besarnya anggaran yang dialokasikan harus diimbangi dengan perhitungan pendapatan dan rencana pengelolaan yang realistis.
Terlebih, pendapatan kawasan Dilem Wilis selama satu tahun terakhir disebut berada di kisaran Rp300 juta. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam menentukan strategi pengembangan dan optimalisasi potensi kawasan.
Ia berharap pengembangan Dilem Wilis tidak sekadar menjadi kegiatan pembangunan tahunan, tetapi benar-benar diarahkan menjadi kawasan produktif yang mampu mendongkrak pendapatan daerah, menggerakkan perekonomian masyarakat, serta memberikan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Trenggalek.
Dengan demikian, investasi yang bersumber dari dana pinjaman tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang dan dipertanggungjawabkan melalui hasil nyata bagi daerah.
Profil Organisasi







